v

5 Dampak Global Warming Bagi Kesehatan Masyarakat


Efek dari global warming atau pemanasan global tidak hanya berpengaruh terhadap lingkungan. Pemanasan global dan perubahan iklim juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 5 dampak pemanasan global bagi kesehatan:

1. Kasus diabetes meningkat
Peneliti dari Leiden University Medical Center, Belanda menemukan prevalensi pengidap diabetes berbanding lurus dengan kenaikan temperatur bumi. Peneliti menduga peningkatan temperatur ini ada hubungannya dengan jaringan lemak coklat. Jaringan lemak coklat berfungsi untuk membakar lemak dan menghasilkan panas ketika tubuh berada di lingkungan yang dingin.

"Kami sangat terkejut dengan penelitian ini. Hasil perhitungan kami menyebut peningkatan temperatur 1 derajat Celcius saja bisa menyebabkan munculnya 100.000 kasus diabetes baru di Amerika Serikat," Lisanne Blauw, peneliti dari Leiden University Medical Center, dikutip dari CNN.

2. Kembalinya virus variola
Pada tahun 1890-an terjadi wabah besar virus variola di sebuah kota dekat sungai Kolyma di sebelah selatan Siberia, Rusia. Saat itu sekitar 40 persen populasi kota meninggal dan untuk mencegah infeksi menular lebih jauh tubuh korban dengan cepat dikubur di bawah lapisan es.

Kini dengan kondisi perubahan iklim, pemanasan global, dan erosi akibat aliran sungai peneliti mengatakan lapisan es yang menjadi kuburan para korban mulai mencair. Muncul kekhawatiran penyakit yang sudah dinyatakan hilang pada 1977 ini kembali lagi.

"Apa proses yang sama bisa terjadi lagi? Tentu saja bisa," kata Boris Kershengolts direktur riset Institute for Biological Problems, dikutip dari BBC.



3. Nyamuk makin ganas
Akibat pemanasan global, proses daur hidup nyamuk kini menjadi lebih singkat. Sebelumnya proses dari telur menjadi nyamuk membutuhkan waktu 9 hingga 10 hari. Namun kini muncul tren baru di mana nyamuk sudah dapat menetas dari telur menjadi nyamuk dewasa hanya dalam waktu kurang dari seminggu.

Selain itu, daerah-daerah dataran tinggi yang sebelumnya dingin dan aman dari gigitan nyamuk kini mulai melaporkan adanya kasus DBD hingga malaria. 
"Di daerah Lembang itu dulu nggak ada nyamuk. Kan pegunungan jadi dingin. Tapi sekarang coba aja, banyak nyamuknya, berarti suhu makin panas, nyamuk makin ganas," ujar Lukman Hakim, Kepala Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) vektor Nyamuk.


4. Meningkatnya kasus penyakit ginjal
Bumi yang makin panas membuat para petani yang bekerja di ladang seharian rentan mengalami penyakit ginjal. Hal ini terjadi karena dehidrasi parah yang mereka alami dan terjadi secara berulang.

Tak hanya petani, profesi lain yang juga bekerja di bawah terik matahari seperti atlet atau pekerja tambang juga memiliki risiko yang sama. 

5. Serangan gelombang panas  
Gelombang panas ditengarai membunuh 670 hingga 1.300 orang setiap tahunnya. Diprediksi pada tahun 2.100, lebih dari 27.000 orang mati tiap tahunnya karena gelombang panas.

Efek lain gelombang panas juga diketahui dapat menyebabkan kualitas udara yang buruk. Akibatnya, risiko asma dan gangguan pernapasan lainnya juga meningkat. Belum lagi kemungkinan terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga tuberkulosis yang diprediksi memburuk pada tahun 2030.

Sumber      :   health.detik.com
Editor         :   bandarberita757.blogspot.com

Advertisemen

Disqus Comments