v

Efek Dari Bahayanya Kurang Tidur

Kurang tidur memang tidak baik untuk kesehatan. Akan tetapi bila yang kurang tidur juga telah memiliki faktor risiko penyakit jantung dan diabetes, bahayanya bisa berlipat ganda lho.

Penelitian terbaru yang dilakukan Julio Fernandez-Mendoza, ahli psikologi tidur dari Sleep Research and Treatment Center, Penn State's Milton S Hershey Medical Center mengatakan, tidur kurang dari 6 jam setiap hari bisa meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan stroke sebanyak dua kali lipat.

Peringatan ini berlaku bagi mereka yang sudah memiliki faktor risiko penyakit jantung dan diabetes sebelumnya, atau biasa disebut dengan sindrom metabolik. 

Sindrom metabolik sendiri terdiri atas tekanan darah tinggi, kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi, gula darah tinggi, obesitas dan kadar lemak darah atau trigliserida yang tinggi. 

Julio memperoleh kesimpulan ini setelah mengamati lebih dari 1.300 pria dan wanita berusia rata-rata 49 tahun yang diminta menginap di laboratorium selama satu malam. 39 Persen partisipan memiliki setidaknya tiga faktor risiko.

17 Tahun kemudian dilakukan studi lanjutan dan 22 persen partisipan dilaporkan telah meninggal dunia.

Menurut Julio, penyebabnya bisa beragam. Salah satunya dari aspek gaya hidup. "Bisa jadi mereka yang memiliki sindrom metabolik dan kurang tidur juga cenderung lebih sedenter (menghabiskan waktu untuk duduk-duduk) dan pola makannya buruk, sehingga meningkatkan risiko penyakitnya," terangnya seperti dilaporkan Web MD.

Ditambah lagi, kurang tidur sendiri sudah mampu menaikkan risiko kematian dini, utamanya bagi mereka yang memilik tekanan darah dan kadar gula darah tinggi.

"Mereka yang memiliki sindrom metabolik dan kurang tidur jadi lebih bermasalah kaitannya dengan sistem saraf anatomik dan metabolismenya," lanjut Julio.

Akan tetapi Julio menegaskan, keterkaitan antara kurang tidur dengan tingginya risiko kematian dini tidak bersifat sebab-akibat, artinya masih bisa dimodifikasi walaupun tidak dapat disepelekan begitu saja.
Kaitannya dengan bulan puasa, jam tidur biasanya terpotong untuk makan sahur, akan tetapi umat Muslim tidak disarankan untuk langsung tidur begitu makan sahur selesai.

Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, konsultan penyakit lambung dan pencernaan dari FKUI/RSCM menjelaskan, ini karena asam lambung bisa kembali ke kerongkongan dan mengakibatkan masalah pada saluran cerna.

Kendati demikian, produktivitas kerja bisa tetap terjaga meski jam tidur terpotong. dr Andreas Prasadja, RPSGT menyarankan agar mereka yang berpuasa untuk tidur siang.

"Karena jam tidur kan sudah terpotong waktu sahur. Makanya diperlukan tambahan tidur. Tidur siang bisa jadi solusinya," tutur pria yang akrab disapa dr Ade ini, dalam perbincangan dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

Durasi tidur siang di bulan puasa maupun di hari biasa sama saja, yaitu tetap 30 menit. Tetapi untuk pekerja kantoran, waktu tidur siang memang tergantung pekerjaan dan kondisi kantor masing-masing. Jika memang memungkinkan untuk tidur siang selama 30 menit, menurut dr Ade hal ini sudah sangat bangus.

"Tapi pun kalau nggak bisa ya 10-15 menit juga nggak apa-apa. Lalu maksimalkan juga tidur di perjalanan misalnya yang naik kereta bisa tidur di jalan, sehabis subuh juga bisa tidur, asal jangan saat mengemudi ya," pesannya.

Sumber     :     health.detik.com
Editor        :     bandarberita757.blogspot.com
Advertisemen

Disqus Comments